1: 2 Rekannya Dipolisikan, Ratusan Mahasiswa Demo di Tugu Aneuk Mulieng
Serba Serbi Langsa 2 Rekannya Dipolisikan Sekitar seratus mahasiswa dari berbagai organisasi kampus menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Tugu Aneuk Mulieng, Idi Rayeuk, Aceh Timur, pada Kamis (24/7).
Dengan membawa spanduk dan pengeras suara, massa aksi menuntut keadilan dan menolak kriminalisasi terhadap aktivis mahasiswa. “Kami hadir bukan untuk gaduh, tapi menyuarakan kebenaran.
Aksi berlangsung damai dan mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
Oleh: Riska Muliana – Mahasiswa Fakultas Hukum
Unjuk rasa di Tugu Aneuk Mulieng adalah jeritan nurani dari generasi muda yang peduli. Mereka turun ke jalan bukan untuk kepentingan pribadi, tapi demi menegakkan nilai demokrasi, transparansi, dan keadilan sosial.
Sudah saatnya aparat dan institusi belajar membedakan antara kritik dan makar. Mahasiswa bukan musuh negara.
Baca Juga: Jasad Ditemukan di Pasi Sukon-Pidie Dijemput Keluarga, Diduga Gangguan Jiwa
2: Di Bawah Terik Matahari, Mahasiswa Idi Rayeuk Berdiri untuk Solidaritas
Terik siang tak menyurutkan langkah seratusan mahasiswa di Tugu Aneuk Mulieng. Mereka berbaris rapi, membawa poster bertuliskan: “Kawan Kami Bukan Kriminal.” Di tengah kerumunan, terlihat wajah-wajah penuh semangat, juga amarah.
“Kita berdiri untuk semua mahasiswa yang berani bersuara,” ujar Dinda, mahasiswa semester 6.
Aksi ini menjadi simbol bahwa di tengah tekanan, mahasiswa Idi Rayeuk tetap menjaga idealisme dan semangat perubahan.
Aksi solidaritas di Tugu Aneuk Mulieng bukan hanya peristiwa lokal. Ini cerminan persoalan yang lebih luas: menyempitnya ruang demokrasi di lingkungan akademik.
Penting bagi institusi dan aparat untuk meninjau ulang pendekatan mereka terhadap suara mahasiswa. Demokrasi tak bisa tumbuh di bawah ancaman pasal.
Tugu Aneuk Mulieng hari ini nggak seperti biasanya. Bendera organisasi mahasiswa berkibar, spanduk terbentang, dan suara orasi bergema.
Bukan ribut-ribut kosong, mereka datang dengan tuntutan jelas: hentikan kriminalisasi terhadap mahasiswa! Aksi berlangsung tertib, meski wajah-wajah mereka menunjukkan jelas rasa kecewa dan marah.
“Kita harus lawan ketidakadilan. Hari ini dua orang, besok bisa kita semua,” kata seorang mahasiswa dalam orasi.
Sejumlah mahasiswa mengusung sejumlah spanduk dan karton berisikan protes kepada yayasan kampus tersebut.
Dengan membawa spanduk bertuliskan “Hidup Mahasiswa!” dan “Tolak Kenaikan UKT”, massa aksi menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah dan parlemen.
Koordinator Lapangan, Rizky Maulana dari Universitas Indonesia, menegaskan bahwa aksi ini bukan bentuk anarki, melainkan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi bangsa.
“Kami datang sebagai pengawal nurani rakyat. Mahasiswa tidak anti pembangunan, tapi kami menolak pembangunan yang tidak berpihak pada rakyat kecil,” ujarnya dalam orasi.





