Langsa Merajut Ukhuwah Bagi banyak orang kaya, makan daging adalah hal yang biasa. Setiap hari mereka bisa menikmati berbagai jenis daging, baik daging sapi, ayam, kambing, hingga ikan berkualitas tinggi. Tapi bagi sebagian besar orang miskin, makan daging bukanlah hal yang sering mereka nikmati, bahkan bisa jadi itu adalah sesuatu yang hampir tak terjangkau.
Kita bisa membayangkan bagaimana mereka menunggu momen-momen tertentu, seperti Hari Raya Idul Adha, untuk bisa merasakan lezatnya daging kurban. Saat itu, ada rasa syukur yang sangat mendalam, karena bagi mereka, daging bukan hanya sekadar makanan, melainkan simbol dari berbagi, kasih sayang, dan persaudaraan. Itulah mengapa bagi mereka, Idul Adha adalah hari yang penuh harapan.
Namun, meski demikian, kenyataan terkadang tidak sesuai harapan. Ada tempat-tempat di mana tidak ada hewan yang dapat dikurbankan. Ini bukan karena tidak adanya potensi untuk berkurban, melainkan karena kondisi ekonomi yang membuat masyarakat setempat tidak mampu untuk berkurban. Bahkan, penguasa setempat pun sering kali tidak mengirimkan bantuan berupa hewan kurban, yang menjadikan sebagian umat Islam tidak mendapatkan bagian daging pada Hari Raya kurban. Tragis, bukan?
Saat kita melihat bahwa di tempat lain daging kurban berlimpah, bahkan ada yang terbuang begitu saja, kita mungkin merasa iri atau bahkan sedih. Apa yang salah dengan distribusi daging kurban ini? Apa yang bisa dilakukan agar keberkahan kurban bisa dirasakan oleh semua, tanpa terkecuali?
Merajut Ukhuwah: Sebuah Sarana Merajut Persaudaraan
Mungkin kita sering berpikir, kurban itu hanya untuk umat Muslim, padahal pada dasarnya, kurban bisa menjadi media untuk merajut ukhuwah (persaudaraan) dengan sesama, termasuk kepada mereka yang non-Muslim. Sebuah sikap berbagi yang bisa mendekatkan antar umat beragama. Daging kurban bisa menjadi simbol kedamaian dan kasih sayang, bukan hanya di kalangan umat Islam, tetapi juga kepada tetangga yang berbeda agama.
Bayangkan jika kurban bisa merata ke seluruh lapisan masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Ini bukan hanya soal berbagi makanan, tetapi juga tentang mempererat hubungan antar umat beragama. Saling memberi bukan hanya sekadar memberi materi, tetapi juga memberi perhatian dan kasih sayang.

Baca Juga: Wali Kota Jeffry Serahkan 59 Hewan Kurban kepada Gampong dan Dayah di Langsa
Sejarah Lahirnya Perintah Berkurban
Kita tentu tidak bisa lepas dari sejarah yang menjadi dasar bagi perintah berkurban.Dalam perjalanan pengorbanan itu, Allah menggantikan Ismail dengan seekor kibas (domba). Ini adalah tanda kasih sayang Allah yang luar biasa, serta ujian keimanan yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim.
Peristiwa ini tidak hanya mengajarkan kita tentang kesabaran dan ketundukan kepada perintah Allah, tetapi juga tentang ikhlas dan tawakal. Nabi Ibrahim dan Ismail adalah contoh sempurna bagaimana sebuah pengorbanan dilakukan bukan dengan paksaan, tetapi dengan hati yang penuh keikhlasan. Allah telah menggantikan anak Nabi Ibrahim dengan seekor kambing sebagai wujud kasih-Nya, karena sesungguhnya Allah tidak ingin melihat hamba-Nya menderita, melainkan ingin memberikan yang terbaik.
Kisah ini tercatat dalam Al-Qur’an surah Ash-Shafaat ayat 102-107, yang menggambarkan dengan jelas bagaimana pengorbanan itu terjadi dan bagaimana Allah memberikan ganti yang lebih baik. Inilah yang menjadi dasar bagi umat Islam untuk melaksanakan kurban setiap tahunnya.
Kurban dan Maknanya dalam Kehidupan Sehari-hari
Berkurban bukan hanya tentang menyembelih hewan dan membagikan dagingnya, tetapi lebih kepada makna yang terkandung di dalamnya. Makna yang dalam dari kurban adalah tentang pengorbanan diri untuk sesuatu yang lebih besar, yaitu kebaikan umat manusia.
Ketika kita berkurban, kita diajarkan untuk berbagi apa yang kita miliki dengan mereka yang membutuhkan, tidak hanya daging, tetapi juga kasih sayang, perhatian, dan kepedulian. Daging kurban yang kita bagikan menjadi simbol dari harapan untuk kehidupan yang lebih baik bagi sesama.
Merajut Ukhuwah: Pengorbanan dalam Berbagi
Kurban seharusnya bukan hanya menjadi ritual tahunan, tetapi harus bisa menjadi pengingat bagi kita untuk terus berbagi dengan sesama. Tidak hanya memberi daging, tetapi memberi perhatian, waktu, dan cinta kepada mereka yang membutuhkan. Dengan cara ini, kita bisa membuat perayaan kurban menjadi lebih berarti, bukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi seluruh umat manusia.
Idul Adha seharusnya bukan hanya menjadi milik orang kaya yang bisa membeli banyak hewan kurban, tetapi juga menjadi momen di mana orang-orang yang kurang mampu merasakan kebahagiaan dan keberkahan dari berbagi.





